Cukup banyak teman kuliah saya yang bilang bahwa mereka menginginkan seorang dokter untuk menjadi pasangannya. Well, sampai saat ini saya amati sudah cukup banyak pasangan Elektro – Dokter yang sampai ke jenjang pernikahan, termasuk saya salah satunya. Jadi bingung, emangnya kenapa kalau punya istri / suami seorang dokter? Padahal kalau tau kerjaannya dokter, bisa-bisa stres sendiri. Mulai dari tugas yang terkadang harus siap on-call kapan pun sampai ancaman tertular penyakit (mulai dari yang ringan macam flu sampai yang berat macam HIV) akibat sering berinteraksi dengan pasien.
Kalau tanya saya kenapa milih dokter, saya jawab: lha, mana saya tau dia bakal jadi dokter. Lha wong dulu waktu SMA milihnya karena dia ya dia, bukan bakal jadi apa jadinya nanti pas kuliah. Dulu ga tau kalau istri saya itu berminat jadi dokter sampai kami cukup dekat. Tapi dipikir-pikir, saya bersyukur yang saya pilih ternyata seorang dokter.
Teman-teman saya bilang enak kalau pasangannya dokter, soalnya bisa ngerawat kalau sakit. Haduh, dasar anak elektro maunya enaknya aja. Tapi ada benarnya juga ini, dan baru kerasa kemarin ketika kaki saya sakit.
Jadi ceritanya entah bagaimana caranya salah satu jari kaki kiri saya terdapat tonjolan bernanah di beberapa tempat membuat kaki saya sakit kalau berjalan, jadinya sedikit pincang (untung nyetir motor ga keganggu karena ini). Nah, setelah bilang ke istri saya, akhirnya pulang kantor disuruh beli beberapa obat untuk mengatasi sakit saya itu.
Now, the fun starts here. Sampai di rumah, kaki saya dibersihkan dengan cairan pembersih. And, without early warning, bagian yang bernanah itu dicabut begitu saja dari kaki saya. Bare handed. YAOWW… It hurts like hell! Seriously! Tadi sudah saya sebutkan ada beberapa titik yang bernanah? Nah, semua titik itu dicabut paksa! Dang! What a painful 2 minutes.
Tapi setelah 2 menit yang penuh penyiksaan itu, alhamdulillah rasa sakitnya sedikit berkurang. Ketika saya tanya ke istri saya apa pernah dia lakukan itu ke pasiennya, dia bilang, “pernah”. Tanpa early warning? “ya pake lah”. E buset… Ternyata istriku cukup kejam padaku. Ck ck ck. (becanda ini mah). Iseng tanya lagi, gimana reaksi pasien waktu ditangani? “Yah, kadang kena tendang atau pukul karena respon si pasien”. Haduh, kasian juga ya.
Yang membuat saya bersyukur adalah penanganan cepat sehingga sakitnya kaki saya ini tidak berlarut-larut. Dari kejadian ini saya jadi berpikir, “Oh, jadi ini toh alasannya banyak yang mau punya pasangan dokter”. Well I have one (don’t need another) and I’m very thankful for that.
Eh, tapi jangan setelah baca post ini jadi pada pengen punya pasangan dokter ya. Don’t be too picky on choosing your spouse or you’ll ended unhappy.
Related Articles
1 user responded in this post
hmm, never thought about it
Leave A Reply